K.A.N.S.A.S
(Kan Anak Nakal Suatu Saat Akan Sadar!)
Moch. Fachrur Rifqi
“Wah, hari ini panas sekali! Nggak kayak biasanya yang penuh dengan awan mendung.” ujar Rio. Ya, dialah Rio, siswa paling jenius dalam bidang komputer se-SMA 13. Bagaimana tidak dibilang jenius, dia adalah peraih medali perak dalam olimpiade komputer SMA tingkat nasional. Tapi karena kejeniusannya itu semua guru di sekolahnya kebakaran jenggot. Bayangkan saja ia pernah mempassword komputer satu sekolah. Dari komputer laboratorium, komputer perpustakaan, semua komputer di ruang guru, komputer kepala sekolah, bahkan sampai laptop-laptop milik guru tak luput dari mangsanya. Tak heran kalau dia masuk daftar blacklist tim tatib sekolah.
”Yo, kamu lagi ngapain?” tanya Ardhi, sang ketua BDI SMA 13 sekaligus teman sekelas Rio.
“Kamu liat sendiri kan, aku lagi sibuk browsing!” jawab Rio dengan nada ketus.
Memang browsing telah menjadi santapan siangnya sepulang sekolah. Berbekal sebuah laptop dan pantat baja, ia duduk di depan mushola sekolah untuk memanfaatkan fasilitas hotspot sekolah.
“Emangnya kamu lagi nyari apa?” tanya Ardhi .
“Banyak!” lagi-lagi Rio menjawab dengan ketus seakan tak mau diganggu.
Memang ada-ada saja yang dicari Rio waktu browsing. Mulai dari cari gambar, cari tugas, main game, buka FB (Facebook), buka FS (Friendster), buka FD (Flash Disk), sampai download lagu. Kalau masalah download lagu, Rio-lah jagonya. Lagu Rhoma Irama sampai Kuburan, Linkin Park sampai Didi Kempot, dia punya semua. Tapi paling sering dia melakukan kegiatan iseng dengan laptopnya itu.
“Allahu akbar Allahu akbar” kumandang adzan dari masjid sebelah sekolah menggema. Suara merdu muadzin untuk mengajak menunaikan shalat Ashar memecah keramaian lingkungan sekolah.
”Kayaknya udah waktunya shalat Ashar nih, ayo kita naik ke atas buat sholat bareng.” Ajak Ardhi.
“ Nanggung nih, lagi seru-serunya!” jawab Rio
“ Shalat itu kan tiang agama. Kalo nggak ditegakin agama kita bias runtuh lho. Lagian pahalanya kan buat kamu sendiri.” Jelas Ardhi.
“ Udah deh, kamu sholat aja sendiri. Pokoknya aku masih pengen main dulu. Nanti kalau udah selesai baru aku shalat!” Balas Rio dengan nada setengah membentak.
“ Ya udah. Aku kan cuma wajib ngingetin, kalau kamu nggak mau ya udah.” Lanjut Ardhi.
Sang menteri agama, Ardhi, meninggalkan tempat duduk Rio. Ia segera menuju mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah shalat Ashar di mushola. Rio masih tetap bertahan dengan laptopnya. Sesekali dia tertawa, sesekali dia cemberut. Sebetulnya apa sih yang dilakukan Rio? Ternyata dia lagi maen game online yang lagi terkenal itu tuh, RF ato Rising Flag Force eh… salah, yang bener itu Rising Force. Kalo Rising Flag Force itu kan basa Inggrisnya Paskibra. Apa jadinya kalo Paskibra dijadiin game, online lagi. Game RF memang sedang menjamur di kalangan pelajar SMA 13. Game bergenre perang itu di maenin dari yang kelas X sampai kelas XII, tak terkecuali Rio.
“ Yo, aku pulang dulu ya, udah sore nih.” Ucap Ardhi yang telah selesai menunaikan shalat ashar.
Rio yang sedang asik maen game tak menghiraukan perkataan Ardhi. Ia terus melanjutkan permainannya.
“ Yes. Naik level. Kalau levelnya udah setinggi ini, anak-anak gak mungkin bisa ngalahin aku!” ujar Rio dengan gembira.
Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul enam kurang dua puluh lima menit lima belas detik. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Tiba-tiba, pintu ruang tatib terbuka. Dari balik pintu muncullah sosok menyeramkan. Tak bertaring panjang, tak bercakar tajam, tak bertanduk, tak botak, walaupun udah agak tua. Dialah Pak Rinto, jenderal tatib di sekolah ini. Katanya sih beliau sudah punya 3 medali penghargaan. 2 medali penghargaan dari Polresta karena telah membantu menangkap maling ayam buronan. Sedangkan yang 1 lagi didapat dari Walikota atas prestasi beliau menggagas proyek kota hijau.
Begitu melihat Rio sedang main, Pak Rinto segera menghampirinya. Telunjuk saktinya kemudian diarahkan ke Rio, tanda setengah murka.
” Hey, mau main game sampai kapan? Cepat pulang. Belajar sana, besok kan pelajaran saya ada ulangan. Awas kalau besok kamu dapat nilai 20 seperti biasanya” ancam Pak Rinto
“I…Iya, Pak.” Jawab Rio dengan ketakutan.
Rio segera memberesi laptopnya, lalu bergegas meninggalkan sekolah untuk pulang ke rumah.
* * *
Tap, tap, tap, tap. Bunyi suara kaki seseorang berlari di luar pagar sekolah. Siapakah dia gerangan? Ya, dialah Rio. Karena semalaman asik maen game, dia bangun kesiangan. Dengan harap-harap cemas ia berlari menuju ruang tatib untuk melaporkan keterlambatannya.
“Waduh, moga-moga aja petugas tatibnya Pak Slamet. Beliau kan orangnya baik, ramah, dan tidak sombong.” Harap Rio.
Siapakah Pak Slamet? Beliau adalah guru paling sabar se SMA 13. Masih muda sih, baru 54 tahun. Tapi sampai sekarang nggak ada yang tau kenapa guru sesabar beliau bisa dijadiin tatib. Jangankan murid, kepala sekolah pun tak tahu. Anak-anak sih menganggap kalo hal itu adalah anugerah dari Allah. Jadi kebukti deh kalo Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dengan hati berdebar Rio membuka sedikit pintu ruang tatib plus sambil berharap yang jaga tatib adalah Pak Slamet. Betapa terkejutnya dia. Telah berdiri sosok jenderal besar tatib di hadapannya dengan berkaca pinggang.
“Mateng aku, kenapa orang ini yang tugas piket. Kalo gini sih aku bisa diceramahin 2 jam pelajaran penuh. Pas ada ulangan Fisika lagi. Kalo nyusul kan aku nggak bisa nyontek.” pikir Rio.
Jadilah Rio diceramahi oleh Pak Rinto panjang lebar. Kali ini siraman rohani dari Pak Rinto lebih njelimet daripada waktu beliau menjelaskan tentang trigonometri. Bayangin aja, buat ngejelasin aturan kosinus a²= b²+c²-2bc cos α butuh waktu 5400 detik ditambah injury time 15 menit dari mengambil jam istirahat. Itupun hanya diisi dengan penjelasan aja, tanpa latian soal. Rio-pun hanya bisa mematung dengan menjawab “Ya Pak”, “Maaf Pak”. Bener-bener kayak narapidana yang udah di skak mat sama hakim pengadilan.
* * *
Teeeeeeet, bunyi bel panjang menandakan jam istirahat berakhir. Siswa kelas XI IA 8 pun bergegas menuju mushola, karena waktunya pelajaran agama. Rio yang paling malas pun datang belakangan. Di mushola telah menanti Pak Santoso, guru paling sepuh se SMA 13.
“Anak-anak. Hari ini kita akan mempelajari tentang shalat sekaligus kita akan praktekkan nanti.” Terang Pak Santoso.
Rio yang tadi malam nggak tidur langsung aja ambil tempat di pojokan. Dia mengambil sajadah dan sarung. Emangnya mau dibuat apa sih? Ternyata mau dibuat tidur. Langsung aja dia bablas menuju alam mimpi nan jauh di sana. Dasar si Rio, mau manfaetin kesempatan dalam kesempitan. Emang sih Pak Santoso yang merupakan guru paling sepuh itu penglihatannya udah sangat amat berkurang. Beliau cuma bisa liat benda paling jauh 3 meter. Ya maklumlah, selain amarga udah sepuh, juga karena beliau juga sakit diabetes. Jadilah Rio tidur sepulas-pulasnya.
“Allahu akbar Allahu akbar.” Suara adzan yang dikumandangkan oleh Ardhi menggema di mushola.
Ardhi memang juara adzan tingkat kota, jadi kemerduan suaranya udah nggak diraguin lagi. Saking merdunya, Rio terbangun dari alam mimpi. Seluruh siswa pun segera mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah shalat dhuhur berjamaah. Terkecuali Rio. Rio masih diam di tempatnya sambil menguap.
“Anak-anak, mari kita shalat dhuhur berjamaah.” Ucap Pak Santoso.
“Aaaaaaaah. Masih ngantuk nih. Lebih baik aku ke bawah aja dulu buat ngelanjutin tidur. Sholatnya nanti aja deh.” pikir Rio.
Rio pun segera turun dari lantai atas, sedangkan temen-temennya dan Pak Santoso shalat berjamaah dengan khusyuk. Betapa apesnya Rio. Baru turun satu anak tangga, ia terpeleset. Jadilah ia turun dengan beratraksi. Bruakk!!!!!!, bunyi suara Rio yang jatuh. Baru bangun, eh…. ternyata apesnya belum selesai. Ia kemudian masih terpeleset kembali, karena lantainya licin. Ia pun meluncur menatap pintu mushola yang terbuat dari kayu jati asli impor dari Belanda udah lawas lagi. Apesnya ternyata nggak selesai-selesai. Brakkkkk!!!!!!!!!!! Pintu mushola yang gede banget jatuh menimpanya. Gak kebayang kan pintu yang ukurannya 3 × 2 meter jatuh menimpa kita. Mungkin rasanya kayak kejatuhan Yao Ming. Itu tuh….si pemain NBA asal China.
Jatuhnya pintu mushola menutup tragedi yang dialami oleh Rio dengan skor 3-0 tanpa injury time dan tanpa babak tambahan maupun adu penalti, kayak sepak bola aja. Temen-temennya yang kaget segera menolongnya. Anehnya tragedi itu selesai tepat saat temen-temennya selesai shalat berjamaah. Rio pun segera dilarikan ke rumah sakit. Kasian juga ya, udah sakit semua masih disuruh lari-lari lagi ke rumah sakit. Ehm…. maksudnya dibawa ke rumah sakit.
* * *
Rio pun hanya bisa meratapi nasibnya di rumah sakit. Ia divonis patah tulang duduk. Hal ini mengakibatkan ia nggak bisa duduk. Jangankan duduk, tidur telentang aja sulit. Jadi, Rio harus tidur dengan posisi tengkurap sampai tulangnya itu bener-bener waras. Dia pun merenungi nasibnya.
“Andai aja waktu itu aku ikut shalat jamaah, mungkin aku nggak akan kena musibah kaya gini.” Renung Rio.
Yah…..tapi apa mau dikata. Orang bijak bilang “Nasi udah jadi ronde” eh…. bukan, “Nasi udah jadi bubur.” Rio harus menjalani sakitnya selama 5 bulan, nggak bisa duduk en nggak bisa tidur telentang. Tapi semenjak itu Rio nggak lagi jadi hacker usil di sekolahnya. Dia pun jadi sregep shalat. Nggak mau kalah, bermain game ia kurangi dan lebih banyak belajar, terutama pelajaran matematika yang menjadi kelemahannya. Kayaknya sih udah nyadar kalo perbuatannya selama ini salah. Kan anak nakal suatu saat akan sadar.
---------------------------------TAMAT---------------------------------
0 komentar:
Posting Komentar